MEMAHAMI DAN MENGHAYATI KENYATAAN YANG DIWUJUDKAN OLEH GEJOLAK MASYARAKAT PERKOTANAAN, MEMAHAMI DAN MEGHAYATI KENYATAAN SOSIAL YANG DIWUJUDKAN OLEH KEBERADAAN MASYARAKAT PEDESAAN, MENGKAJI HUBUNGAN ANTARA MASYARAKAT PERKOTAAN DAN PEDESAAN

MEMAHAMI DAN MENGHAYATI KENYATAAN YANG DIWUJUDKAN OLEH GEJOLAK MASYARAKAT PERKOTANAAN, MEMAHAMI DAN MEGHAYATI KENYATAAN SOSIAL YANG DIWUJUDKAN OLEH KEBERADAAN MASYARAKAT PEDESAAN, MENGKAJI HUBUNGAN ANTARA MASYARAKAT PERKOTAAN DAN PEDESAAN

 

  1. A.   MASYARAKAT PERKOTAAN, ASPEK ASPEK POSITIF DAN NEGATIF

       I.            Pengertian masyarakat

  • Ø R. Linton : masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerjasama.
    Ø M. J. Herskovits : masyarakat adalah kelompok individu yang dioraganisasikan dan mengikuti satu cara hidup tertentu.
    Ø J. L. Gillin dan J. P. Gillin : masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar dan mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap dan perasaan persatuan yang sama.
    Ø S. R. Steinmetz : masyarakat adalah kelompok manusia yuang terbesar yang meliputi pengelompokan-pengelompokan manusia yang lebih kecil, yang mempunyai perhubungan yang erat dan teratur.
    Ø Hasan Shadily : masyarakat adalah golongan besar atau kecil dari beberapa manusia, yang dengan atau sendirinya bertalian secara golongan dan mempunyai pengaruh kebatinan satu sama lain.

    1. Pengertian Masyarakat secara umum
    ü Masyarakat dalam arti luas adalah keseluruhan hubungan-hubungan dalam hidup bersama dan tidak dibatasi oleh lingkungan, bangsa, dan sebagainya. Atau dengan kata lain, kebulatan dari semua perhubungan dalam hidup bermasyarakat.
    ü Masyarakat dalam arti sempit adalah sekelompok manusia yang dibatasi oleh aspek-aspek tertentu, misalnya teritorial (wilayah), bangsa, golongan, dan sebagainya. Contoh, ada masyarakat jawa, masyarakat sunda, masyarakat minang, masyarakat petani, dan sebagainya.

   II.            Sayarat sayarat menjadi masyarakat

1. Harus ada pengumpulan manusia dan harus banyak, bukan pengumpulan binatang.
2. Telah bertempat tinggal dalam waktu yang lama di suatu daerah tertentu.
3. Adanya aturan-aturan atau undang-undang yang mengatur mereka untuk menuju kepada kepentingan dan tujuan bersama.
Dipandang dari cara terbentuknya, masyarakat dibagi dalam dua bentuk, yaitu :
1. Masyarakat paksaan, misalnya : negara, masyarakat tawanan, dan lain-lain.
2. Masyarakat merdeka, yang terbagi dalam :
a) Masyarakat natur, yaitu masyarakat yang terjadi dengan sendirinya, seperti gerombolan (horde), suku (stam), yang bertalian karena hubungan darah/keturunan. Dan biasanya masih sederhana sekali kebudayaannya.
b) Masyarakat kultur, yaitu masyarakat yang terjadi karena kepentingan keduniaan/kepercayaan, misalnya koperasi, kongsi perekonomian, gereja, dan lain-lain.

 

 

  1. III.            Pengertian masyarakat perkotaan

Masyarakat perkotaan sering disebut juga urban community, adalah masyarakat yang tidak tertentu jumlah penduduknya. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat-sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan.
Pengertian kota sendiri adalah suatu himpunan penduduk masalah yang tidak agraris, yang bertempat tinggal di dalam dan di sekitar suatu kegiatan ekonomi, pemerintah, kesenian, ilmu pengetahuan, dan sebagainya.

 IV.            Ciri ciri tipe masyarakat

Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat perkotaan, yaitu :

  1. Kehidupan keagamaannya berkurang, kadangkala tidak terlalu dipikirkan karena memang kehidupan yang cenderung kearah keduniaan saja.
  2. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus berdantung pada orang lain (Individualisme).
  3. Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
  4. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota.
  5. Jalan kehidupan yang cepat dikota-kota, mengakibatkan pentingnya faktor waktu bagi warga kota, sehingga pembagian waktu yang teliti sangat penting, intuk dapat mengejar kebutuhan-kebutuhan seorang individu.
  6. Perubahan-perubahan tampak nyata  dikota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar.

 

    V.            Perbedaan antara desa dan kota

Ada beberapa ciri yang dapat membedakan antara masyarakat desa dan masyarakat kota, antara lain ;
a) Jumlah dan kepadatan penduduk
b) Lingkungan hidup
c) Mata pencaharian
d) Corak kehidupan sosial
e) Stratifikasi sosial
f) Mobilitas sosial
g) Pola interaksi sosial
h) Solidaritas sosial
i) Kedudukan dalam hierarki sistem administrasi social

 

 

  1. B.   HUBUNGAN DESA DENGAN KOTA

 VI.            Hubungan anatara desa dan kota aspek positif dan negative

Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komonitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat. Bersifat ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan bahan pangan seperti beras sayur mayur , daging dan ikan. Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi bagi jenis jenis pekerjaan tertentu dikota. Misalnya saja buruh bangunan dalam proyek proyek perumahan. Proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau jembatan dan tukang becak. Mereka ini biasanya adalah pekerja pekerja musiman. Pada saat musim tanam mereka, sibuk bekerja di sawah. Bila pekerjaan dibidang pertanian mulai menyurut, sementara menunggu masa panen mereka merantau ke kota terdekat untuk melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia.

“Interface”, dapat diartikan adanya kawasan perkotaan yang tumpang-tindih dengan kawasan perdesaan, nampaknya persoalan tersebut sederhana, bukankah telah ada alat transportasi, pelayanan kesehatan, fasilitas pendidikan, pasar, dan rumah makan dan lain sebagainya, yang mempertemukan kebutuhan serta sifat kedesaan dan kekotaan.

Hubungan kota-desa cenderung terjadi secara alami yaitu yang kuat akan menang, karena itu dalam hubungan desa-kota, makin besar suatu kota makin berpengaruh dan makin menentukan kehidupan perdesaan.

Secara teoristik, kota merubah atau paling mempengaruhi desa melalui beberapa caar, seperti: (i) Ekspansi kota ke desa, atau boleh dibilang perluasan kawasan perkotaan dengan merubah atau mengambil kawasan perdesaan. Ini terjadi di semua kawasan perkotaan dengan besaran dan kecepatan yang beraneka ragam; (ii) Invasi kota , pembangunan kota baru seperti misalnya Batam dan banyak kota baru sekitar Jakarta merubah perdesaan menjadi perkotaan. Sifat kedesaan lenyap atau hilang dan sepenuhnya diganti dengan perkotaan; (iii) Penetrasi kota ke desa, masuknya produk, prilaku dan nilai kekotaan ke desa. Proses ini yang sesungguhnya banyak terjadi; (iv) ko-operasi kota-desa, pada umumnya berupa pengangkatan produk yang bersifat kedesaan ke kota. Dari keempat hubungan desa-kota tersebut kesemuanya diprakarsai pihak dan orang kota. Proses sebaliknya hampir tidak pernah terjadi, oleh karena itulah berbagai permasalahan dan gagasan yang dikembangkan pada umumnya dikaitkan dalam kehidupan dunia yang memang akan mengkota.

Salah satu bentuk hubungan antara kota dan desa adalah :

a). Urbanisasi dan Urbanisme

Dengan adanya hubungan Masyarakat Desa dan Kota  yang saling ketergantungan dan saling membutuhkan tersebut maka timbulah masalah baru yakni ; Urbanisasi yaitu suatu proses berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dapat pula dikatakan bahwa urbanisasi merupakan proses terjadinya masyarakat perkotaan. (soekanto,1969:123 ).

b)    Sebab-sebab Urbanisasi

1.)   Faktor-faktor yang mendorong penduduk desa untuk meninggalkan daerah kediamannya(Push factors)

2.)   Faktor-faktor yang ada dikota yang menarik penduduk desa untuk pindah dan menetap dikota (pull factors)

Hal – hal yang termasuk push factor antara lain :

a.    Bertambahnya penduduk sehingga tidak seimbang dengan persediaan lahan pertanian,

b.    Terdesaknya kerajinan rumah di desa oleh produk industri modern.

c.    Penduduk desa, terutama kaum muda, merasa tertekan oleh oleh adat istiadat yang ketat sehingga mengakibatkan suatu cara hidup yang monoton.

d.    Didesa tidak banyak kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan.

e.    Kegagalan panen yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti banjir, serangan hama, kemarau panjang, dsb. Sehingga memaksa penduduk desa untuk mencari penghidupan lain dikota.

Hal – hal yang termasuk pull factor antara lain :

a.    Penduduk desa kebanyakan beranggapan bahwa dikota  banyak pekerjaan dan lebih mudah untuk mendapatkan penghasilan

b.    Dikota lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan usaha kerajinan rumah menjadi industri kerajinan.

c.    Pendidikan terutama pendidikan lanjutan, lebih banyak dikota dan lebih mudah didapat.

d.    Kota dianggap mempunyai tingkat kebudayaan yang lebih tinggi dan merupakan tempat pergaulan dengan segala macam kultur manusianya.

e.    Kota memberi kesempatan untuk menghindarkan diri dari kontrol sosial yang ketat atau untuk mengangkat diri dari posisi sosial yang rendah ( Soekanti, 1969 : 124-125 ).

 

 

  1. VII.            Tentang aspek positif dan negative

A.    Perkembangan kota merupakan manifestasi dari pola kehidupan sosial , ekonomi , kebudayaan dan politik . Kesemuanya ini akan dicerminkan dalam komponen – komponen yang memebentuk struktur kota tersebut . Jumlah dan kualitas komponen suatu kota sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pertumbuhan kota tersebut.
Secara umum dapat dikenal bahwa suatu lingkungan perkotaan , seyogyanya mengandung 5 unsur yang meliputi :

–          Wisma : Untuk tempat berlindung terhadap alam sekelilingnya.
–          Karya : Untuk penyediaan lapangan kerja.
–          Marga : Untuk pengembangan jaringan jalan dan telekomunikasi.
–          Suka : Untuk fasilitas hiburan, rekreasi, kebudayaan, dan kesenian.
–          Penyempurnaan : Untuk fasilitas keagamaan, perkuburan, pendidikan, dan utilitas umum.
Untuk itu semua , maka fungsi dan tugas aparatur pemerintah kota harus ditingkatkan :
a)    Aparatur kota harus dapat menangani berbagai masalah yang timbul di kota . Untuk itu maka pengetahuan tentang administrasi kota dan perencanaan kota harus dimilikinya .
b)    Kelancaran dalam pelaksanaan pembangunan dan pengaturan tata kota harus dikerjakan dengan cepat dan tepat , agar tidak disusul dengan masalah lainnya.
c)    Masalah keamanan kota harus dapat ditangani dengan baik sebab kalau tidak , maka kegelisahan penduduk akan menimbulkan masalah baru.
d)    Dalam rangka pemekaran kota , harus ditingkatkan kerjasama yang baik antara para pemimpin di kota dengan para pemimpin di tingkat kabupaten tetapi juga dapat bermanfaat bagi wilayah kabupaten dan sekitarnya .

  1. VIII.            5 unsur lingkungan perkotaan

Perkembangan kota merupakan manifestasi dari pola-pola kehidupan sosial, ekonomi, kebudayaan dan politik. Kesemuanya akan tercermin dalam komponen-komponen yang membentuk stuktur kota tersebut. Secara umum dapat dikenal bahwa suatu lingkungan perkotaan setidaknya mengandung 5 unsur yang meliputi :

  1. Wisma : unsure ini merupakan bagian ruang kota yang dipergunakan untuk tempat berlindung terhadap alam sekelilingnya, serta untuk melangsungkan kegiatan-kegiatan sosial dalam keluarga. Unsure wisma ini menghadapkan

>dapat mengembangkan daerah perumahan penduduk yang sesuai dengan pertambahan kebutuhan penduduk untu masa mendatang

>memperbaiki keadaan lingkungan perumahan yang telah ada agar dapat mencapai standar mutu kehidpan yang layak, dan memberikan nilai-nilai lingkungan yang aman dan menyenangkan

  1. Karya : unsure ini merupakan syarat yang utama bagi eksistensi suatu kota, karena unsure ini merupakan jaminan bagi kehidupan bermasyarakat.
  2. Marga : unsure ini merupakan ruang perkotaan yang berfungsi untuk menyelenggarakan hubungan antara suatu tempat dengan tempat lainnya didalam kota, serta hubungan antara kota itu dengan kota lain atau daerah lainnya.
  3. Suka : unsure ini merupakan bagian dari ruang perkotaan untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan fasilitas hiburan, rekreasi, pertamanan, kebudayaan dan kesenian
  4. Penyempurna : unsure ini merupakan bagian yang penting bagi suatu kota, tetapi belum secara tepat tercakup ke dalam keempat unsur termasuk fasilitas pendidikan dan kesehatan, fasiltias keagamaan, perkuburan kota dan jaringan utilitas kota.

 

 IX.            Fungsi external kota

Fungsi eksternal kota:

  1. Pusat kegiatan politik dan administrasi pemerintahan wilayah tertentu
  2. Pusat dan orientasi kehidupan social budaya suatu wilayah lebih luas
  3. Pusat dan wadah kegiatan ekonomi ekspor :

>       Produksi barang dan jasa

>       Terminal dan distribusi barang dan jasa.

4.    Simpul komunikasi regional/global

5.    Satuan fisik-infrastruktural yang terkail dengan arus regional/global.

 

  1. C.   MASYARAKAT PEDESAAN

       I.            Ciri ciri desa

Adapun ciri-ciri dari desa adalah sebagai berikut :
a) Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
b) Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan.
c) Cara berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam seperti, iklim, keadaan alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan.

   II.            Ciri ciri masyarakat pedesaan

Diantara ciri-ciri masyarakat pedesaan adalah :
a) Di dalam masyarakat pedesaan diantara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya diluar batas wilayahnya.
b) Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan (Gemeinschaft atau paguyuban).
c) Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian.
d) Masyarakat tersebut homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat-istiadat dan sebagainya.

  1. III.            Macam macam pekerjaan gotong royong

1. Di bidang pertanian

Di waktu dahulu bila seseorang akanmengerjakan/ membuka kebun, berladang, memungut hasil panen dan lain sebagainya, maka pekerjaan ini biasanya dilakukan bersama-sama sampai pekerjaan tersebut selesai tanpa pamrih atau imbalan apapun, lebih banyak melibatkan masyarakat dalam ikatan uku yaitu kelompok yang terikat dalam suatu territorial, geonologis dan religious. Hal ini dilakukan karena mereka merasa dirinya sebagai suatu kelompok primer di mana hubungan satu dengan yang lain berlangsung dalam frekwensi yang tinggi. Pengarahan tenaga dilakukan hanya dengan suatu pengunguman oleh kepala Ukuatau soa melalui marinyo(petugas untuk menyampaikan berita ke seluruh negeri). Di Desa Tuhaha dan Haria juga desa-desa lain di Pulau Saparua, bila ada kegiatan membuka kebun baru, terlebih dahulu dilaksanakan upacara yang disebut mau-mau. Upacara ini dilakukan seminggu atau paling lambat sehari sebelum kegiatan dimulai. Upacara ini dipimpin oleh orang yang dituakan atau tua adat.

2. Di bidang perburuan

Aktivitas masohi untuk kegiatan berburu diistilahkan dengan user. Kelompok ini beranggotakan kaum pria. Berburu di desa Tuhaha dikenal dengan istilah “user babi”. Hasil buruan yang didapat dibagi sama rata kepada anggota yang ikut dalamkegiatan tersebut serta pendeta sebagai tanda terimakasih kepada Tuhan. Pemilik anjing biasanya mendapat dua bagian. Jika ada kelebihan dibagi juga kepada kaumkerabat yang itdak ikut. Sedangkan untuk acara pesta maka hasil buruannya diserahkan seluruhnya kepada keluarga tersebut. Sedangkan di desa Haria kegiatan berburu dikenal dengan nama “dodeso babi”. Dodeso biasanya di buat oleh kelompok yang terdiri dari lima sampai tujuh orang. Hasilnya dibagi sama rata.

3. Di bidang perikanan

Kegiatan tolong menolong di bidang perikanan dikenal beberapa istilah seperti rorehe/perahu arumbai dan sero. Rorehe /perahu arumbai merupakan sejenis perahu pencari ikan dengan ukuran besar memakai layar, yangdilengkapi alat penangkap ikan seperti:

1. Jaring redi panjang 100 sampai 600 meter, dapat mengkap jenis ikan besar maupun kecil seperti ikan tongkol/cakalang,ikan momar.

2. Jala, dipakai untuk menangkap jenis-jenis ikan seperti make kawalinya dan lain-lain.

3.  Huhate, yaitu alat penangkap ikan yang terbuat dari sebatang bamboo, panjang kira-kira dua meter, dimana pada ujung bamboo itu diikat tali tasi dan diberi mata kail lengkap dengan umpan. Huhate dipakai untuk menangkap jenis ikan besar seperti cakalang , komu/tunadan tatihu.

4. Jiop yaitu sejenis jarring yang dipakai untuk menangkap jenis ikan seperti ikan terbang, ikan julung dan lain sebagainya.

Peserta yang ikut dalam kegiatan ini antara lima sampai dengan 15 orang,dengan seorang pemimpin yang disebut tanasi. Pemilik peralatan disebut tuan manara (menara) biasanya tuan manara merangkap tanasi, sedangkan anggota arumbai disebut masnait. Seroyaitu sejenis penangkap ikan yang terbuat dari belahan-belahan bamboo yang dianyam menyerupai tikar dan dipancangkan pada tiang-tiang dan ditempatkan dipesisir pantai sebagai perangkap ikan. Kegiatan ini dilakukan secara gotong royong. Tempat yang dipilih untuk mendirikan sero harus di tempat yang didatangi kan dan juga pada air yang agak dangkal, tetapi bila air pasang surut tidak kering.

Masyarakat di desa haria sebelum melaksanakan kegiatan melaut selalu mengadakan doa bersama kepada Tuhan untuk memohon berkat dan perlindungan selama di laut. Dalam hubungannya dengan kegiatan melaut, mereka mengenal dua macam upacara untuk penggunaan perahu baru dan jarring baru. Upacara ini dinamakan “upacara turun perahu dan upacara turun jarring”.

4. Di bidang teknologi

Aktivitas di bidang ini antara laindalam kegiatan membuat pagar, mendirikan rumah, mulai dari memotong kayu untuk ramuan rumah sampai membangun dan lain sebagianya dilaksanakan secara gotong royong. Pelaksanaannya sama seperti gotong royong atao masohi di bidang pertaninan. Di desa Tuhaha kegiatan memotong ramuan rumah, dilakukan pada saat bulan genap (bulan mati).

5. Maano

Maano adalah kelompok tolong menolong dalam mengerjakan suatu pekerjaan secara borongan di mana anggotnanya mendapat upah dan dibagi sama rata di antara mereka. Kegiatan ini biaanya dilakukan pada waktu panen, terutama panen cengkeh. Kelompok maano adalah mereka yang tidak memiliki pohon cengkeh atau cengkehnya tidak berbuah. Ada juga kelompok maano dari desa tetangga atau desa yang adahubungan pela. Bila dalam suatu negeri hasil panennya banyak maka biasanya akan dimaanokan kepada orang lain. Jumlah hasil panen yang diberikan telah disepakati bersama oleh mereka.

6. Di bidang kepentingan umum

Aktivitas ini berhunbungan dengan kegiatan-kegiatan seputar kepentingan umum seperti mengerjakan baileu, rumah-rumah raja, kepala soa, pendeta, membersihkan negeri dan lain sebagainya.Yang menonjol dalam aktivitas ini adalah suatu hubungan masohi yangdisebut pela. Pela adalah hubungan anatara dua aman atau negeri atau lebih, di mana satu dengan yang lain saling membantu. Apabila penduduk salah satu aman kekurangan bahan makanan maka ia dapat saja mengambilnya dari pelannya baik dengan izin ataupun tanpa izin. Anggota pela harus ditolong atau dibantu apabila melewati desa pelanya. Sesama pela biasanya saling menyapa dengan sapaan “nanoa pela”, “nyong pela”.

7. Di bidang sekitar rumah tangga

Masohi yang berkaitan dengan ini adalah menyangkut segala aktivitas tolong-tolong seputar kehidupan rumah tangga. Misalnya dalam perkawinan, kematian, menggali sumur, membuat pagar rumah, dan lain sebagainya. Biasanya pekerjaan tersebut melibatkan kaum kerabat dan juga tetangga dekat, dimana pada gilirannya bila orang lain membangun rumah maka orang yang telah dibantu akan membantu pula.

8. Di bidang kepercayaan

Masohi di bidang ini berhubungan dengan kegiatan membersihkan tempat-tempat keramat, kuburan, dan upacara keagamaan lainnya yang diadakan di baileu, batu pamali dan negeri aman. Upacara ini dilakukan bersama-sama oleh masyarakat uku atau aman. Semua kebutuhan untuk menyelenggarakan upacara ditanggung bersama. Salah satu kegiatan gotong royong (masohi) di bidang kepercayaan adalah upacara Cuci Negeri di Desa Tuhaha yang dilaksanakan dlam bulan Desember menjelang perayaan hari natal dan tahun baru. Tujuannya untukmembersihkan desa. Menurut kepercayaan masyarakat, akan terjadibencana di desa akibat datuk-datuk dan para leluhur menjadi marah.

9. Gotong royong kerja bakti

Dilihat dari istilahnya maka kata kerja bakti diambil dari Bahasa Indonesia. Dapat diartikan kerja bersama-sama tanpa pamrih untuk kepentingan bersama. Kelompok aktivitas di bidang ini anggotanya sangat besar dan sifatnya tidak permanen, sebab kegiatan di bidang ini adalahmenyangkut kepentingan umum. Tenaga yang dikerahkan hamper menyangkut sebagian besarpenduduk dewasa. Pekerjaan yang biasanya dikerjakan seperti pembangunan gedung gereja atau masjid,pembersihan lingkungan, pembuatan jalan desa, pagar desa, tempat-yempat air minum, rumah raja, kantor desa dan lain sebagianya. Di desa Tuhaha dan Haria dan juga desa-desa lain di pulau Saparua terdapat suatu norma dalam kegiatan tolong-menolong yaitubagi seseorang yang melewati tempat yang sementara melaksanakan aktivitas masohi kerja bakti tanpa ia mengambil bagian atau membantu. Mereka yang berbuat demikian akan dicemohkan dianggap sebagai orang yang tidak bermoral dan akan menjadi bincangan orang. Oleh sebab itu bila di desa ada kegiatan-kegiatan maka masyarakat akan selalu berpartisipasi tanpa pamrih.

 

 IV.            Sifat dan hakikat masyarakat desa

Seperti dikemukakan oleh para ahli atau sumber bahwa masyarakat Indonesia lebih dari 80% tinggal di pedesaan dengan mata pencaharian yang bersifat agraris.
Masyarakat pedesaan yang agraris biasanya dipandang antara sepintas kilas dinilai oleh orang-orang kota sebagai masyarakat tentang damai, harmonis yaitu masyarakat yang adem-ayem, sehingga oleh orang kota dianggap sebagai tempat untuk melepaskan lelah dari segala kesibukan, keramaian dan keruwetan atau kekusutan pikir.
Tetapi sebenarnya di dalam masyarakat pedesaan kita ini mengenal bermacam-macam gejala, khususnya tentang perbedaan pendapat atau paham yang sebenarnya hal ini merupakan sebab-sebab bahwa di dalam masyarakat pedesaan penuh dengan ketegangan-ketegangan sosial.
Dalam hal ini kita jumpai gejala-gejala sosial yang sering diistilahkan dengan :
1) Konflik (pertengkaran)
Ramalan orang kota bahwa masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang tenang dan harmonis itu memang tidak sesuai dengan kenyataan sebab yang benar dalam masyarakat pedesaan adalah penuh masalah dan banyak ketegangan. Karena setiap hari dari mereka yang selalu berdekatan dengan orang-orang tetangganya secara terus-menerus dan hal ini menyebabkan kesempatan untuk bertengkar amat banyak sehingga kemungkinan terjadi peristiwa-peristiwa peledakan dari ketegangan amat banyak dan sering terjadi.
Pertengkaran-pertengkaran yang terjadibiasanya berkisar pada masalah sehari-hari rumah tangga dan sering manjalar ke luar rumah tangga. Sedang sumber banyak pertengkaran itu rupa-rupanya berkisar pada masalah kedudukan dan gengsi, perkawinan dan sebagainya.
2) Kontraversi (pertentangan)
Pertentangan ini bisa disebabkan oleh perubahan konsep-konsep kebudayaan (adat-istiadat), psikologi atau dalam hubungannya dengan guna-guna (black magic). Para ahli hukum biasanya meninjau masalah kontraversi (pertentangan) ini dari sudut kebiasaan masyarakat.

3) Kompetisi (persiapan)
Sesuai dengan kodratnya masyarakat pedesaan adalah manusia-manusia yang mempunyai sifat-sifat sebagai manusia biasanya yang antara lain mempunyai saingan dengan manifestasi sebagai sifat ini. Oleh karena itu, maka wujud persaingan itu bisa positif dan bisa negatif. Positif bila persaingan wujudnya saling meningkatkan usaha untuk meningkatkan prestasi dan produksi atau out put (hasil). Sebaliknya yang negatif bila persaingan ini hanya berhenti pada sifat iri, yang tidak mau berusaha sehingga kadang-kadang hanya melancarkan fitnah-fitnah saja, yang hal ini kurang ada manfaatnya sebaliknya menambah ketegangan dalam masyarakat.
4) Kegiatan pada masyarakat pedesaan

    V.            System budaya petani Indonesia

Menurut Mubiyarto petani Indonesia mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
a. Petani itu tidak kolot, tidak bodoh atau tidak malas. Mereka sudah bekerja keras sebisa-bisanya agar tidak mati kelaparan.
b. Sifat hidup penduduk desa atau para petani kecil (petani gurem) dengan rata-rata luas sawah + 0,5 hayang serba kekurangan adalah nrimo (menyerah kepada takdir) karena merasa tidak berdaya.
5) Sistem nilai budaya petani Indonesia
a. Para petani di Indonesia terutama di Jawa pada dasarnya menganggap bahwa hidupnya itu sebagai sesuatu hal yang buruk, penuh dosa, kesengsaraan. Tetapi itu tidak berarti bahwa ia harus menghindari hidup yang nyata dan menghindarkan diri dengan bersembunyi di dalam kebatinan atau dengan bertapa, bahkan sebaliknya wajib menyadari keburukan hidup itu dengan jelas berlaku prihatin dan kemudian sebaik-baiknya dengan penuh usaha dan ikhtiar.
b. Mereka beranggapan bahwa orang bekerja itu untuk hidup, dan kadang-kadang untuk mencapai kedudukan.
c. Mereka berorientasi pada masa ini (sekarang), kurang memperdulikan masa depan, mereka kurang mampu untuk itu.bahkan kadang-kadang ia rindu masa lampau, mengenang kekayaan masa lampau (menanti datangnya kembali sang ratu adil yang membawa kekayaan bagi mereka).
d. Mereka menganggap alam tidak menakutkan bila ada bencana alam atau bencana lain itu hanya merupakan sesuatu yang harus wajib diterima kurang adanya agar peristiwa-peristiwa macam itu tidak berulang kembali. Mereka cukup saja dengan menyesuaikan diri dengan alam, kurang adanya usaha untuk menguasainya.
e. Dan untuk menghadapi alam, mereka cukup dengan hidup bergotong-royong, mereka sadar bahwa dalam hidup itu pada hakikatnya tergantung kepada sesamanya.

 

  1. Para petani di Indonesia terutama di pulau jawa pada dasarnya menganggap bahwa hidupnya itu sebagai sesuatu hal yang buruk, penuh dosa, kesengsaraan. Tetapi itu tidak berarti bahwa ia harus menghindari hidup yang nyata dan menghindarkan diri dengan bersembunnyi di dalam kebatinan atau dengan bertapa, bahkan sebaliknya wajib menyadari keburukan hidup itu dengan jelas berlaku prihatin dan kemudian sebaik-baiknya dengan penuh usaha atau ikhtiar.
  2. Mereka beranggapan bahwa orang bekerja itu untuk hidup, dan kadang-kadnag untuk mencapai kedudukannya.
  3. Mereka berorientasi pada masa ini (sekarang), kurang memperdulikan masa depan, mereka kurang mampu untuk itu. Bahkan kadang-kadang ia rindu masa lampau mengenang kekayaan masa lampau menanti datangnya kembali sang ratu adil yang membawa kekayaan bagi mereka).
  4. Mereka menganggap alam tidak menakutkan bila ada bencana alam atau bencana lain itu hanya merupakan sesuatu yang harus wajib diterima kurang adanya agar peristiwa-peristiwa macam itu tidak berulang kembali.  Mereka cukup saja menyesuaikan diri dengan alam, kurang adanya usaha untuk menguasainya.
  5. Dan unutk menghadapi alam mereka cukup dengan hidup bergotong-royong, mereka sadar bahwa dalam hidup itu tergantung kepada sesamanya.
  6. UNSUR-UNSUR DESA

 

 VI.            Unsur unsur desa

unsur-unsur desa adalah sebagai berikut:

1. Daerah, dalam arti tanah-tanah dalam hal geografis.
2. Penduduk, adalah hal yang meliputi jumlah pertambahan, kepadatan, persebaran, dan mata pencaharian penduduk desa setempat
3. Tata Kehidupan, dalam hal ini pola pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan antar warga desa.

ketiga unsur ini tidak lepas antar satu sama lain, artinya tidak berdiri sendiri melainkan merupakan satu kesatuan.

  1. VII.            Fungsi desa

fungsi desa adalah:
1. desa yang merupakan hinterland atau daerah dukung berfungsi sebagai suatu daerah pemberian bahan makanan pokok.
2. desa ditinjau dari sudut pemberian ekonomi berfungsi sebagai lumbung bahan mentah dan tenaga kerja yang tidak kecil artinya.
3. desa dari segi kegiatan kerja desa dapat merupakan desa agraris, desa manufaktur, desa industri, desa nelayan, dll

 

  1. D.   PERBEDAAN MASYARAKAT PEDESAAN DAN MASYARAKAT PERKOTAAN (PERBEDAAN KE 2NYA)

Perbedaan masyarakat pedesaan dan masyarakat kota adalah bagaimana cara mereka mengambil sikap dan kebiasaan dalam memecahkan suata permasalahan.

Karakteristik umum masyarakat pedesaan yaitu masyarakat desa selalu memiliki ciri-ciri dalam hidup bermasyarakat, yang biasa nampak dalam perilaku keseharian mereka. Pada situasi dan kondisi tertentu, sebagian karakteristik dapat dicontohkan pada kehidupan masyarakat desa di jawa. Namun dengan adanya perubahan sosial dan kebudayaan serta teknologi dan informasi, sebagian karakteristik tersebut sudah tidak berlaku. Berikut ini ciri-ciri karakteristik masyarakat desa, yang terkait dengan etika dan budaya mereka yang bersifat umum.

  1. Sederhana
  2. Mudah curiga
  3. Menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku didaerahnya
  4. Mempunyai sifat kekeluargaan
  5. Lugas atau berbicara apa adanya
  6. Tertutup dalam hal keuangan mereka
  7. Perasaan tidak ada percaya diri terhadap masyarakat kota
  8. Menghargai orang lain
  9. Demokratis dan religius
  10. Jika berjanji, akan selalu diingat

Sedangkan cara beadaptasi mereka sangat sederhana, dengan menjunjung tinggi sikap kekeluargaan dan gotong royong antara sesama, serta yang paling menarik adalah sikap sopan santun yang kerap digunakan masyarakat pedesaan.

Berbeda dengan karakteristik masyarakat perkotaan, masyarakat pedesaan lebih mengutamakan kenyamanan bersama dibanding kenyamanan pribadi atau individu. Masyarakat perkotaan sering disebut sebagai urban community.

Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu:

1. kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa. Masyarakat kota hanya melakukan kegiatan keagamaan hanya bertempat di rumah peribadatan seperti di masjid, gereja, dan lainnya.

2.  orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa bergantung pada orang lain

3. di kota-kota kehidupan keluarga sering sukar untuk disatukan, karena perbedaan politik dan agama dan sebagainya.

4. jalan pikiran rasional yang dianut oleh masyarkat perkotaan.

5. interaksi-interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada faktor kepentingan pribadi daripada kepentingan umum.

Hal tersebutlah yang membedakan antara karakteristik masyarakat perkotaan dan pedesaan, oleh karena itu, banyak orang-orang dari perkotaan yang pindah ke pedesaan untuk mencari ketenangan, sedangkan sebaliknya, masyarakat pedesaan pergi dari desa untuk ke kota mencari kehidupan dan pekerjaan yang layak untuk kesejahteraan mereka.

Secara umum seperti berikut:

Masyarakat Pedesaan Masyarakat Kota
>Perilaku homogen

>Perilaku yang dilandasi oleh konsep kekeluargaan dan kebersamaan  >Perilaku yang berorientasi pada tradisi dan status

>Isolasi sosial, sehingga statik

Kesatuan dan keutuhan kultural

Banyak ritual dan nilai-nilai sakral

>Kolektivisme

>Perilaku heterogen

>Perilaku yang dilandasi oleh konsep pengandalan diri dan kelembagaan

>Perilaku yang berorientasi pada rasionalitas dan fungsi

>Mobilitas sosial, sehingga dinamik

Kebauran dan diversifikasi kultural

Birokrasi fungsional dan nilai-nilai sekular  >Individualisme

nama: fatah izzudin

npm : 22312794

kelas: 1tbo1

sumber

http://ratih-nurafriani.blogspot.com/2011/11/masyarakat-perkotaan-dan-pedesaan.html

http://rarysblog.blogspot.com/2012/06/bentuk-bentuk-gotong-royong-masyarakat.html

http://maliqren.wordpress.com/2010/11/19/masyarakat-pedesaan/

http://unsurdesadanfungsidesa.blogspot.com/

http://tyomulyawan.wordpress.com/perbedaan-masyarakat-kota-dengan-masyarakat-desa/

http://taufikhidayah21.wordpress.com/tag/ciri-ciri-type-masyarakat/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s